Ringkasan: Terong merupakan tanaman penting di seluruh dunia, tetapi kualitas dan hasil panennya terancam oleh berbagai hama. Pengendalian hayati, pemantauan, dan praktik budidaya dapat membantu melindungi tanaman terong dan mendukung hasil panen yang lebih sehat.
Ikhtisar:
Hama apa saja yang menyerang tanaman terong?
Penggerek buah dan pucuk
Kumbang kutu
Kutu renda
Kutu kebul
Kutu daun
Trips
Tungau laba-laba berbintik dua
Kumbang kentang Colorado
Bagaimana cara mengendalikan hama pada tanaman terong?
FAQ (Pertanyaan Umum)
Ringkasan
Terong (Solanum melongenaTerong merupakan tanaman penting di banyak negara, termasuk Amerika Serikat (AS), India, Asia Selatan, dan Afrika Timur. Di India, terong (dikenal sebagai brinjal di Asia Selatan atau aubergine di Inggris) menyumbang sekitar 9 persen dari total produksi sayuran, dan di seluruh Asia Timur, terong merupakan salah satu sayuran terpenting dalam hal luas lahan budidaya dan total volume produksi. Namun, terong rentan terhadap hama, yang dapat mengurangi hasil panen. Hama penggerek buah dan pucuk saja dilaporkan di India menyebabkan kerugian hingga 70%. Artikel ini berfokus pada identifikasi dan pengendalian hama dan penyakit umum pada terong, serta mengeksplorasi penggunaan agen biokontrol untuk mengurangi dampaknya.
Hama apa saja yang menyerang tanaman terong?
Terong rentan terhadap ancaman dari berbagai hama, termasuk penggerek buah dan pucuk, selain kumbang, thrips, kutu putih, tungau, dan kutu daun. Beberapa hama memiliki dampak yang lebih besar daripada yang lain, dan ini dapat bervariasi tergantung iklim dan lokasi geografis. Misalnya, penggerek pucuk sangat merusak di Asia Selatan, tetapi pada dasarnya tidak ada di AS, di mana kumbang kutu dan kumbang kentang Colorado cenderung menjadi ancaman dominan bagi tanaman terong.
Penggerek buah dan pucuk (Leucinodes orbonalis)
Hama penggerek buah dan pucuk terong merusak tanaman terong pada tahap larva dengan cara melubangi pucuk, kuncup bunga, dan buah, menyebabkan pucuk layu dan buah berubah warna serta rasanya tidak enak. Larva berupa ulat kecil, tampak pucat tetapi dengan kepala gelap saat baru menetas dan menjadi merah muda saat dewasa, mencapai panjang sekitar 18-20 mm. Ngengat dewasa berukuran kecil dengan warna putih kekuningan dan bintik-bintik cokelat muda yang tersebar. Kerusakan akibat penggerek pucuk dapat berupa ujung pucuk yang layu, gugur bunga dan kuncup, serta buah yang berongga dan berubah warna yang mengandung lubang (meskipun seringkali tampak normal dari luar).


Kumbang kutu tembakau (Epitrix hirtipennis)
Kumbang kutu dewasa merusak tanaman terong dengan mengunyah daun, sedangkan larvanya memakan akar tanaman. Kumbang dewasa berukuran sekitar 1.5 mm dengan tubuh oval berwarna hitam dan sedikit berbulu; larvanya berupa ulat berwarna putih kekuningan dengan kepala cokelat yang tetap berada di dalam tanah. Gejala utama yang terlihat dari serangan kumbang kutu adalah lubang-lubang kecil pada daun, yang memberikan tampilan khas seperti "lubang tembakan".

Kutu renda terong (Gargaphia solani)
Serangga ini merusak tanaman terong dengan menusuk jaringan daun dan menghisap getah tanaman. Serangga dewasa berwarna abu-abu atau cokelat muda dengan kaki berwarna kuning pucat dan dua pasang sayap seperti renda. Panjangnya sekitar 5 mm. Telurnya kecil dan berbentuk oval memanjang. Telur-telur tersebut ditemukan dalam kelompok melingkar di bagian bawah daun, dengan setiap telur diletakkan di ujungnya dan condong ke arah yang berbeda. Kerusakan yang terlihat akibat kutu daun berupa area melingkar yang berubah warna pada daun, yang akhirnya menjadi kuning dan mengering.

Kutu kebul daun perak (bemisia tabaci)
Baik nimfa maupun kutu daun perak dewasa terutama merusak tanaman terong dengan menghisap getah dari bagian bawah daun. Mereka juga menyebabkan kerusakan melalui kotoran yang mereka hasilkan, yang kemudian ditumbuhi jamur. Nimfa kutu daun berbentuk elips berwarna hijau kekuningan, sedangkan kutu daun dewasa memiliki tubuh berwarna hijau kekuningan yang sebagian besar tertutup oleh sayap putih yang terlipat seperti tenda (tidak rata menempel pada tubuh). Gejala kerusakan daun akibat serangan kutu daun dewasa dan nimfa meliputi bercak kuning, penguningan urat daun, dan bercak-bercak pada daun. Gejala sekunder juga dapat berupa pertumbuhan jamur, yang membuat tanaman tampak menghitam.

Kutu daun persik hijau (Myzus persicae)
Hama ini merusak tanaman dengan menghisap cairan tanaman dari daun, menyuntikkan air liur beracun, dan menyebabkan masalah jamur. Nimfa tampak berwarna merah muda kemerahan, sedangkan serangga dewasa berwarna hijau kekuningan dan berukuran sekitar 1.5-2 mm. Selama serangan hama, bintik-bintik kuning kecil muncul pada daun disertai dengan penggulungan daun dan perubahan bentuk. Gejala sekunder dapat berupa jamur jelaga, yang tumbuh pada embun madu lengket yang dikeluarkan kutu daun.

Trips bunga barat (Frankliniella occidentalis)
Hama ini merusak tanaman inang dengan menusuk permukaan daun dan menghisap getah. Mereka adalah serangga kecil, berukuran hingga 2 mm panjangnya. Tubuhnya tipis dan warnanya bervariasi dari hitam hingga kuning jerami, serta memiliki dua pasang sayap berbulu halus. Mereka menyebabkan daun berubah menjadi cokelat atau tampak keperakan dengan bercak kuning. Mereka juga mengurangi jumlah buah dan dapat menyebabkan perubahan warna pada tudung daun buah. Thrips juga dapat membawa penyakit tanaman.

Tungau laba-laba berbintik dua (Tetranychus urticae)
Tungau laba-laba berbintik dua memakan permukaan bawah daun terong dan menyebabkan kerusakan dengan menghisap getah tanaman dari daun. Serangga ini sangat kecil, hanya tumbuh hingga sekitar 0.15 mm panjangnya, dan berwarna hijau tua pucat dengan bintik hitam di setiap sisi tubuh (meskipun ini mungkin hanya terlihat di bawah mikroskop). Gejala hama ini termasuk bintik-bintik perak atau kuning pucat pada daun, yang akhirnya memudar dan mengering. Populasi yang besar dapat menghasilkan jaring yang terlihat di bagian bawah daun, karena tungau membuat jaring saat mereka makan.

Kumbang kentang Colorado (Leptinotarsa decemlineata)
Baik larva maupun serangga dewasa dari hama ini memakan daun dan kuncup. Larvanya berwarna oranye atau merah kekuningan dengan kepala hitam dan bintik-bintik hitam. Serangga dewasanya berwarna cokelat kekuningan dengan kepala berbintik dan garis-garis di setiap sayap. Gejala infestasi meliputi penggundulan daun yang signifikan. Hama ini dapat memakan seluruh daun.


Bagaimana cara mengendalikan hama pada tanaman terong?
Terdapat berbagai metode yang tersedia untuk melindungi tanaman terong dari hama. Kombinasi pendekatan yang menggunakan praktik Pengelolaan Hama Terpadu (IPM) dan agen pengendalian hayati seringkali efektif, dengan menargetkan hama menggunakan berbagai cara kerja.
Pemantauan
Petani harus melakukan pengamatan terhadap gejala-gejala yang telah dijelaskan di atas. Gejala kerusakan yang paling umum akibat hama terong adalah perubahan warna daun dan penurunan hasil panen buah terong. Beberapa spesies yang dijelaskan di atas, seperti tungau laba-laba berbintik dua, mungkin terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang, tetapi hama yang lebih besar mungkin terlihat pada tanaman, terutama jika infestasinya besar. Beberapa hama menyebabkan kerusakan yang khas, seperti daun berlubang-lubang yang disebabkan oleh kumbang kutu, dan jaring yang terlihat di bagian bawah daun akibat tungau laba-laba.
Kontrol budaya
Pengendalian secara budaya bergantung pada praktik pertanian atau berkebun non-kimia tertentu untuk menurunkan risiko serangan hama. Metode pengelolaan tanaman ini bergantung pada identifikasi hama yang tepat. Menghindari monokultur tanaman merupakan taktik utama dengan melakukan rotasi tanaman terong dengan tanaman dari famili yang berbeda untuk memutus siklus hidup hama. Panduan ini juga mencakup menghindari tanaman yang diserang oleh hama serupa, yang dalam hal ini termasuk tomat, kentang, dan paprika. Kebersihan dan pembuangan tanaman yang terserang hama secara teratur harus dilakukan. Lahan harus dibajak setelah panen untuk menghancurkan larva yang bersembunyi di dalam tanah. Menanam varietas yang tahan hama juga dapat membantu mengurangi serangan hama.
Kontrol biologis
- Zat Alami: Zat-zat ini biasanya berasal dari tumbuhan dan dapat digunakan dalam bentuk semprotan untuk mengusir atau membunuh hama. Misalnya, ekstrak tumbuhan, seperti minyak neem, dapat mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh penggerek buah dan pucuk.
- Semiokimia: Ini adalah senyawa pembawa pesan yang dapat digunakan untuk mengganggu perilaku hama. Misalnya, metileugenol adalah feromon penarik bagi lalat buah jantan dan dapat digunakan dalam perangkap untuk mencegah kerusakan pada tanaman terong.
- Mikroba: Pestisida mikroba adalah mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan virus yang membahayakan hama dan mikroba penyebab penyakit tetapi tidak membahayakan tanaman. Misalnya, Bacillus thuringiensis adalah spesies bakteri yang memengaruhi larva serangga tertentu, seperti larva penggerek buah dan pucuk, dengan cara meracuni dan melumpuhkan sistem pencernaan.
- Makrobial: Ini adalah hewan yang lebih besar, seperti serangga bermanfaat tertentu, yang merupakan musuh alami hama, memakan atau menjadi parasit bagi hama. Misalnya, tawon parasitoid yang disebut Trichogramma adalah predator penggerek buah dan pucuk, meletakkan telurnya di dalam telur penggerek pucuk, sehingga membunuh hama tersebut.
Pestisida Kimia
Sebagai pemimpin dunia dalam penerapan pengetahuan pengelolaan hama berbasis alam, CABI mendorong IPM sebagai pendekatan berbasis ekologi yang lebih disukai untuk menghasilkan tanaman yang sehat, yang memungkinkan penggunaan pestisida kimia hanya jika diperlukan, dan dengan mematuhi langkah-langkah yang membatasi paparan manusia dan lingkungan terhadapnya (lihat FAO, Kode Etik Internasional tentang Pengelolaan Pestisida).
Sebelum mempertimbangkan penggunaan pestisida kimia, petani harus mengeksplorasi semua solusi non-kimia yang tersedia untuk mengendalikan hama terong, termasuk yang tercantum di atas. Untuk saran pengelolaan hama yang sesuai, kunjungi CABI BioProtection Portal, di mana Anda dapat memasukkan lokasi dan masalah hama untuk mencari solusi khusus.
Jika pestisida kimia dipertimbangkan untuk digunakan, petani harus memilih pestisida kimia berisiko rendah yang, bila digunakan sebagai bagian dari strategi Pengelolaan Hama Terpadu (IPM), membantu mengendalikan masalah hama sekaligus meminimalkan dampak berbahaya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Penyedia layanan konsultasi pertanian dapat memberikan informasi tentang pestisida kimia berisiko rendah yang tersedia secara lokal dan kompatibel dengan strategi IPM. Para ahli ini juga dapat memberikan saran tentang peralatan pelindung diri yang dibutuhkan.
FAQ (Pertanyaan Umum)
Apa saja hama utama pada terong (brinjal)?
Terong rentan terhadap serangan berbagai hama, yang bervariasi menurut wilayah. Hama utama meliputi penggerek buah dan pucuk, kutu daun, kutu daun, thrips, lalat putih, dan berbagai spesies kumbang.
Bagaimana cara mengendalikan hama penggerek buah dan pucuk terong tanpa menggunakan bahan kimia?
Pengendalian secara budaya memainkan peran penting dalam mengendalikan hama penggerek buah dan pucuk, karena hama ini pada dasarnya hanya memakan terong. Zat alami, seperti minyak neem, dipercaya dapat mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh hama penggerek buah dan pucuk. Pengendalian hayati tambahan juga dapat digunakan untuk mengendalikan hama terong tanpa perlu menggunakan bahan kimia.
Apa saja pilihan pengendalian hayati yang tersedia untuk hama pada tanaman terong?
Semua bentuk pengendalian hayati dapat digunakan pada hama terong, termasuk zat alami (seperti minyak neem), semiokimia seperti metileugenol untuk lalat buah, serta mikroba dan makroba.
Bagaimana penasihat dapat membantu petani menyusun program IPM (Pengelolaan Hama Terpadu) untuk tanaman terong?
Para ahli dapat memberikan saran kepada petani mengenai berbagai program Pengelolaan Hama Terpadu (IPM) yang disesuaikan dengan tanaman terong dan kondisi spesifik tempat petani tersebut bercocok tanam. Berdasarkan informasi ini, para penasihat dapat membantu petani mengoptimalkan pengelolaan hama.
Ringkasan
Terong merupakan sumber pendapatan penting bagi banyak petani dan merupakan salah satu tanaman sayuran terpenting, khususnya di Asia Selatan, tetapi hasil panen terancam oleh berbagai macam hama. Kumbang, penggerek buah dan pucuk, tungau, thrips, dan kutu daun dapat secara signifikan mengurangi kesehatan tanaman, sehingga berdampak pada hasil panen dan kualitas buah. Pengelolaan yang efektif membutuhkan identifikasi hama yang akurat dan penggunaan strategi Pengelolaan Hama Terpadu (IPM). Dengan memantau secara cermat dan menggabungkan praktik budidaya, pengendalian hayati, seperti penggunaan mikroba untuk membunuh hama, dan penggunaan pestisida terkontrol jika diperlukan, petani dapat melindungi tanaman terong mereka sekaligus mendorong produksi buah terong yang berkelanjutan dan tangguh.
Kami telah menyiapkan panduan lengkap tentang perlindungan tanaman terkait lainnya, termasuk tomat, dan pengendalian penyakit jamur, seperti botrytis.